nature-photo2 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1 nature-photo1

 

SAMBUTAN HUT SMA BOPKRI 2 YOGYAKARTA KE 64

 (KEPALA SEKOLAH SRI SULASTRI, M.Pd.)

 

 

 

Pencanangan BOPKRI VISIONER oleh Yayasan bukanlah sesuatu yang berlebihan tetapi merupakan jawaban atas dinamika pendidikan di Indonesia, bukan hanya pemberlakukan kurikulum 2013 namun juga hasil pendidikan sebagai perubahan tingkah laku belum tapak jelas. Pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah pun belum menjawab pergeseran nilai-nilai yang disebabkan perubahan secara cepat disegala bidang salah satu pemicunya adalah media. Media yang merupakan alat pembelajar selayaknya pedang bermata dua, ada kalanya menjadi sumber belajar namun tak jarang menjadi alat yang memberi pengaruh negatif pada siswa. Oleh karena itu SMA BOPKRI 2 sebagai institusi pendidikan mengetahui posisi yang harus menjadi filter derasnya arus media dalam kehidupan siswa. Salah satunya adalah penanaman niai-nilai spiritual.

 

Kerapkali banyak pertanyaan apa pebedaan sekolah pada umumnya dengan SMA BOPKRI 2 Yogyakarta? Tentu saja pertanyaan tersebut bukan hanya jawaban namun implementasi sehingga dapat terinternalisasi dalam kehidupan siswa. Siswa SMA BOPKRI 2 dapat mewujudnyatakan sikap dan perilaku yang menggambarkan siswa yang terdidik di institusi BOPKRI, Siswa yang mengerti arti ‘Kasih’, siswa yang berperilaku terpuji, berbudi pekerti yang baik, senyum, sapa, salam, sopan, santun (5S) dapat diaplikasikan dalam keseharian siswa.

 

Untuk menginternalisasi nilai-nilai karakteristik siswa bukan hanya teladan yang diberikan bapak/ibu guru/karyawan namun jug media yang lain diantaranya dengan pencanangan “Batik” sebagai muatan lokal di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta. Melalui batik anak dapat belajar nilai; ketekunan, kerjasama, menghargai karya orang lain, mencintai budaya sendiri artinya juga mencintai tanah air, bahkan kerja keras. Siswa belajar dari pengalaman yang dilakukannya dengan pengalaman belajar maka hasil belajar dapat bertahan lama yang akan membentuk karakteristik siswa. Oleh karena itu maka, untuk memperingati HUT SMA BOPKRI 2 Yogyakarta ke 64, diadakan kegiatan “Membatik Jumputan Bersama” yang dilakukan oleh Siswa, Guru, Karyawan dan hasil batik jumputan tersebut akan dipakai untuk segaram hari Sabtu. Membatik bersama tentu saja membutuhkan kerja sama, penghargaan terhadap karya orang lain, gotong royong, saling membantu, peduli terhadap teman lain yang belum mampu mengerjakan dengan demikian maka pengalaman ini akan terekam dalam memori yang akhirnya akan membentuk nilai kebersamaan dalam diri siswa, guru dan karyawan. Perhelatan ini pun dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Drs. Edy Hery Suasana, M.Pd dan Ketum Yayasan BOPKRI Drs. Purnawan Hardiyanto, M.Dev

Momentum HUT SMA BOPKRI 2 Yogyakarta ke 64 dengan karya tangan siswa, guru, dan karyawan akan menghasilkan kebanggaan terhadap budaya tanah air yang juga pelestarian budaya. Viva BOPKRI 2 Yogyakarta. Tuhan Memberkati.

 


SAMBUTAN YUSRI, S.Th.

Keterkaitan antara internet dan institusi pendidikan tidak dapat dipisahkan. Maksudnya, penggunaan internet sejak awal mula dimaksudkan untuk pendidikan, tidak saja untuk melancarkan penyebaran sekaligus demi mempermudah akses berbagai informasi. Dikemudian hari penggunaan internet semakin berkembang, tidak dapat dipungkiri berkat berbagai inovasi kepentingan masyarakat bisnis.

Sebagai Implementasi dari Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) tentang pelaksanaan program rintisan Sekolah Kategori Mandiri (SKM). Program tersebut dimulai tahun 2007 di 441 SMA dan bertambah menjadi 3252 SMA pada tahun 2009 diseluruh Indonesia.

Pemerintah melalui Direktorat PSMA telah melaksanakan Rintisan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal atau ( PBKL ) di 100 sekolah dan Rintisan Pusat Sumber Belajar ( PSB ) di 33 sekolah, jumlah ini tersebar di 33 Propinsi dan 463 Kabupaten / Kota di Indonesia pada tahun 2010 dilakukan ferifikasi terhadap SMA yang menjadi rintisan SKM – PBKL – PSB dan telah terpilih 132 sekolah yang dijadikan SMA Pelaksana SKM – PBKL – PSB.

Kebutuhan dan kecepatan penguasaan dan penerapan IPTEK dalam pembelajaran menjadi sebuah keharusan dalam merespons perkembangan pesat masyarakat global dalam persfektip teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan tidak terkecuali dunia pendidikan. TIK semakin dibutuhkan dalam pengelolaan pendidikan dan pembelajaran untuk berbagi informasi dan pengetahuan. Kondisi tersebut menempatkan TIK sebagai salah satu ikon utama dalam mewujudkan program pengelolaan bahan ajar dan bahan uji berbasis TIK melalui Pusat Sumber Belajar (PSB).

 


Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
BODA on Facebook